Pernah nggak nonton film, lalu setelah selesai kamu malah bengong?
Bukan soal filmnya jelek, tapi karena kepikiran terus. Ending-nya kayak nanggung, sekaligus bikin susah move on.
Percaya, deh, film dengan open-ending itu sering lebih “nempel” di kepala dibanding film yang semuanya dijelasin sampai tuntas.
Ada yang kesel, sebagian lagi langsung buka forum diskusi, bahkan ada juga yang debat sama teman sampai lupa waktu. Kamu begitu juga, nggak?
Nah, di bawah ini ada 7 film dengan ending terbuka yang sampai sekarang masih sering jadi bahan obrolan panjang.
Sepakat atau nggak, nanti kita bahas bareng di pikiran masing-masing.
1. Inception (2010)
Kalau ngomongin open-ending, rasanya hampir mustahil nggak nyebut Inception.
Adegan gasing yang berputar itu legendaris. Ada yang fokus nunggu gasingnya jatuh, begitu pula sebagian bilang, “Udahlah, bukan itu poinnya.”
Justru di situ jadi sisi menariknya.
Cobb akhirnya memilih untuk tidak peduli lagi apakah dunia tersebut nyata atau mimpi. Dia memilih anak-anaknya. Iya, kan?
Kadang kita juga begitu. Ada hal yang sebenarnya nggak pernah benar-benar pasti, tapi tetap kita jalani karena itu yang terasa paling masuk akal.
2. Lost in Translation (2003)
Film ini pelan. Sepi. Bahkan buat sebagian orang, mungkin membosankan.
Tapi kalau kamu masuk ke suasananya, ending-nya terasa sangat manusiawi.
Bisikan terakhir Bob ke Charlotte itu nggak terdengar jelas. Dan jujur saja, mungkin memang bukan untuk kita dengar.
Rasanya kayak momen pribadi yang “eh, kok aku ikut-ikutan dengar, ya?” Kamu ngerasa begitu juga, nggak?
3. No Country for Old Men (2007)
Banyak penonton ngerasa film ini, “Kok selesai gitu aja?”.
Nggak ada duel klimaks, apalagi kepuasan khas film thriller.
Tapi justru itu poin pentingnya. Hidup nggak selalu adil, dan kejahatan nggak selalu ditutup rapi. Ending berupa cerita mimpi itu terasa aneh, tapi juga terkesan apa adanya. Sepakat?
Kadang realitas memang sesederhana dan sesunyi itu.
4. Donnie Darko (2001)
Tipe film yang bikin kamu nanya, “Ini sebenernya tentang apa, sih?”
Itu wajar, kok. Banyak orang baru “ngeh” setelah nonton Donnie Darko dua atau tiga kali.
Apakah Donnie menyelamatkan semua orang? Atau semua yang kita lihat cuma representasi kondisi mentalnya? Film ini nggak pernah kasih jawaban pasti. Dan mungkin memang nggak perlu. Iya, kan?
Nggak semua cerita harus ditutup dengan penjelasan panjang lebar.
5. Blade Runner (1982)
Pertanyaan tentang Deckard itu manusia atau replikan masih terus dibahas sampai sekarang. Bahkan setelah ada sekuelnya.
Ending-nya tidak pernah bilang, “Ini jawabannya.”
Tapi justru mengajak kita mikir ulang, apa sih arti menjadi manusia? Ingatan? Empati? Atau pilihan yang kita ambil?
Kalau dipikir-pikir, pertanyaan tersebut malah lebih penting daripada jawabannya.
6. Enemy (2013)
Kalau kamu nonton Enemy dan langsung paham ending-nya, jujur saja, mungkin kamu bohong.
Ending-nya datang cepat, aneh, dan bikin nggak nyaman.
Banyak simbol dan penafsiran, yang hampir semuanya masuk akal sekaligus meragukan.
Film Enemy seperti bilang, “Ini bukan teka-teki untuk diselesaikan, melainkan perasaan untuk dirasakan.” Percaya, deh, film ini makin dipikirkan justru makin bikin merinding.
7. The Lobster (2015)
Film ini berhenti tepat sebelum keputusan paling ekstrem diambil. Kita tidak pernah tahu apakah tokoh utamanya benar-benar melakukan apa yang ia rencanakan.
Dan di situlah letak “tamparannya”.
The Lobster memaksa kita bertanya, sejauh apa seseorang mau berubah demi cinta? Atau jangan-jangan, itu bukan cinta sama sekali?
Kamu kepikiran juga, nggak, habis nontonnya?
Open-Ending Justru Lebih Diingat
Film dengan open-ending memang bukan untuk semua orang. Ada yang merasa ditipu, walau ada pula yang merasa tertantang.
Tapi satu hal pasti, film-film seperti ini jarang cepat dilupakan. Mereka hidup di kepala kita, obrolan, maupun diskusi panjang yang kadang nggak pernah selesai.
Kalau kamu tipe penonton yang suka film-film “mikiran”, yang habis nonton malah pengin ngobrol atau debat, kamu bisa menemukan banyak bahasan menarik seputar film di citylaxthemovie.com.
Di sini, film tidak hanya dibahas dari sisi cerita, tapi juga dari sudut pandang pengalaman menontonnya.
Karena kadang, film terbaik bukan yang memberi semua jawaban. Tapi yang bikin kita terus bertanya. Iya, kan?



