Pernah nggak sih kamu menemukan lagu lama, terus mikir, “Kok baru sekarang gue ngerasa ini bagus banget, ya?”
Padahal lagunya udah rilis entah berapa tahun lalu.
Nah, ternyata ini kejadian yang sering banget di dunia musik. Bahkan, ada musisi yang sepanjang hidupnya hampir nggak dianggap, lho. Namun setelah waktu berjalan… boom, karyanya malah dianggap masterpiece.
Aneh? Iya. Tapi nyata.
Berikut ini di antara 6 musisi yang karyanya baru benar-benar dihargai setelah bertahun-tahun, bahkan ada yang setelah mereka nggak ada lagi.
Sedih sedikit, tapi menarik juga buat dipikirkan.
1. Nick Drake
Kalau kamu dengerin Nick Drake hari ini, musiknya terasa intim, tenang, dan dalam. Cocok banget buat malam sepi atau waktu lagi mikir banyak hal.
Tapi di era 1970-an? Musik kayak gitu nggak laku!
Album-album Nick Drake hampir nggak terjual. Promosi minim, penampilannya jarang, dan dia sendiri bukan tipe yang suka tampil di depan publik.
Akhirnya, musiknya lewat begitu saja tanpa banyak orang sadar.
Ironisnya, justru puluhan tahun setelah kematiannya, lagu-lagunya mulai didengar publik. Sering dipakai di film dan iklan, serta masuk playlist orang-orang yang suka musik mellow.
Baru saat itu banyak yang bilang, “Ini jenius.”
Telat, walau akhirnya diakui.
2. Sixto Rodriguez
Kisah Rodriguez ini sering bikin orang geleng-geleng kepala.
Di Amerika, album-albumnya gagal total. Hampir nggak ada yang kenal. Hidupnya pun sederhana, bahkan sempat bekerja kasar demi bertahan hidup.
Tapi di Afrika Selatan? Lagu-lagunya jadi anthem. Banyak orang mengira dia sudah meninggal atau bahkan tokoh mitos.
Puluhan tahun kemudian, fakta itu terbongkar. Dunia baru sadar bahwa ada musisi luar biasa yang selama ini “hilang”. Dokumenter tentang hidupnya membuat namanya dikenal secara global.
Bayangkan, dihargai dunia saat kamu sudah hampir menyerah pada musik.
Nyesek, sih. Tetapi juga luar biasa.
3. The Velvet Underground
Kalau bicara soal angka penjualan, The Velvet Underground bukan band yang terbilang sukses.
Album awal mereka sepi peminat. Musiknya dianggap aneh, liriknya terlalu gelap, dan jelas bukan konsumsi radio.
Tapi ada satu kalimat terkenal, “Tidak banyak yang membeli album mereka, hanya saja hampir semua yang membelinya lantas membentuk band sendiri.”
Dan itu ada benarnya, lho.
Pengaruh mereka baru terasa bertahun-tahun kemudian, saat musisi lain mengakui bahwa inspirasi terbesar mereka datang dari band ini.
Jadi bukan sekadar populer saat itu, melainkan dampaknya di masa depan. Sepakat, nggak?
4. Billie Holiday
Billie Holiday sebenarnya dikenal pada masanya. Namun, penghargaan terhadap kedalaman karyanya baru benar-benar terasa jauh setelah ia wafat.
Dulu, banyak orang hanya melihatnya sebagai penyanyi jazz dengan suara khas.
Sekarang? Orang mulai benar-benar memahami betapa emosional dan jujurnya cara dia bernyanyi.
Setiap nada terdengar seperti pengalaman hidup yang berat, dan itu bukan kebetulan, kok.
Pendeknya, dunia baru siap mendengarkan dengan empati setelah waktunya lewat.
Kadang memang begitu, ya. Karya mendahului pemahaman pendengarnya.
5. Elliott Smith
Elliott Smith punya lagu-lagu yang pelan, lirih, dan sangat personal. Di era yang masih mengejar musik besar dan megah, karyanya terasa “kecil”.
Tapi justru di situlah kekuatannya.
Saat masih hidup, dia punya penggemar setia, meski belum bisa dibilang jadi bagian mainstream.
Baru setelah kematiannya, banyak orang mulai menyelami lirik-liriknya dan berkata, “Kok ini relatable banget?”
Mungkin karena sekarang orang lebih terbuka soal kesehatan mental. Jadi musik Elliott Smith akhirnya menemukan pendengarnya.
6. Judee Sill
Nama Judee Sill mungkin nggak sering muncul di obrolan musik populer.
Tapi karyanya sangat dalam, spiritual, dan emosional. Saat albumnya dirilis, respons publik biasa saja. Bahkan cenderung dingin.
Sekarang, musisi dan kritikus mulai menganggap Judee Sill sebagai salah satu penulis lagu paling unik di masanya. Musiknya terasa personal, sekaligus luas maknanya.
Kadang Karya Butuh Waktu, Bukan Validasi Instan
Dari semua cerita ini, satu hal yang terasa jelas bahwa tidak semua karya langsung menemukan penontonnya.
Sebagian musik memang “lahir terlalu cepat” untuk zamannya.
Di era sekarang yang serba instan, ini jadi pengingat kecil bahwa angka views, chart, dan viral bukan satu-satunya ukuran. Ada karya yang bekerja diam-diam, perlahan, dan baru terasa bertahun-tahun kemudian.
Suka bahas musik, film, atau budaya pop dengan sudut pandang yang nggak sekadar rame-rame doang? Kamu bisa nemuin bahasan serupa di citylaxthemovie.com.
Kadang yang menarik justru bukan yang paling keras, melainkan yang paling bertahan lama. Iya, kan?




