5 Adaptasi Film dari Novel yang Justru Lebih Kena di Versi Filmnya

Biasanya kalau ada kabar novel favorit mau dijadikan film, reaksi orang langsung defensif.

“Pasti dipotong.” Atau “Ah, pasti nggak sedalam bukunya.”

Yang paling sering, “Bukunya jauh lebih bagus!”

Dan ya, sering kali itu benar. Tapi… nggak selalu.

Ada beberapa kasus di mana filmnya justru terasa lebih rapi jalan ceritanya, lebih fokus, dan lebih ngena. Terutama buat penonton umum.

Bukan karena bukunya jelek, kok. Terkadang memang karena versi filmnya tahu harus menekan di bagian mana.

Setidaknya ini 5 contoh film adaptasi novel yang sering bikin orang bilang, “Oke, filmnya memang menang.”

1. The Shawshank Redemption

Fakta menariknya, banyak orang bahkan nggak sadar kalau film ini adaptasi dari karya Stephen King.

Novel aslinya yang berjudul Rita Hayworth and Shawshank Redemption itu disusun pendek. Malah lebih seperti cerita selingan dan tidak sepopuler karya King lainnya.

Versi filmnya? Pelan, sabar, dan emosinya dibangun perlahan. Hubungan Andy dan Red terasa lebih hidup.

Ada ruang buat penonton bernapas dan ikut tenggelam dalam cerita.

Buku memang jadi fondasi, tapi filmnya seperti menyempurnakan nada kisahnya. Dan jujur saja, kebanyakan orang mengingat filmnya, bukan novelnya.

2. Forrest Gump

Kalau kamu baca novelnya, Forrest itu bukan karakter yang “hangat” seperti di film. Lebih sinis, kasar, dan kadang terasa absurd.

Film memilih arah berbeda. Forrest dibuat polos, tulus, dan kadang terasa terlalu baik untuk dunia di sekitarnya.

Tapi justru di situ kekuatannya.

Cerita jadi lebih mudah diterima lintas generasi. Banyak orang yang tersentuh, bahkan menangis. Padahal kalau baca novelnya duluan, mungkin reaksinya biasa saja.

Percaya, deh, ini salah satu contoh di mana perubahan karakter itu jadi keputusan yang tepat.

3. Fight Club

Ini kasus menarik karena novel dan filmnya sama-sama gelap, walau filmnya lebih “terkontrol”.

Novel Fight Club punya gaya bahasa yang liar. Buat sebagian orang, itu keren. Namun bagi sebagian lain, capek rasanya.

Filmnya berhasil merapikan kekacauan tersebut tanpa menghilangkan pesannya.

Visual, musik, dan akting membantu menyampaikan konflik batin tokohnya dengan lebih jelas. Bahkan twist-nya terasa lebih menghantam karena dibangun pelan-pelan.

Nggak heran kalau banyak yang mengenal Fight Club dari film dulu, baru tertarik ke bukunya.

4. The Godfather

Ini mungkin agak kontroversial, tapi banyak pembaca setuju bahwa novelnya terlalu punya banyak cabang cerita.

Film memangkas habis subplot yang tidak perlu dan fokus ke dinamika keluarga Corleone. Hasilnya justru jauh lebih elegan.

Michael Corleone versi film terasa ikonik. Perubahannya dari anak “baik-baik” menjadi sosok dingin terasa natural.

Bukunya tetap penting, kok. Hanya saja filmnya jauh lebih disiplin dalam bercerita.

5. Jaws

Novel Jaws punya banyak drama tambahan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Mulai dari perselingkuhan, konflik personal, sampai detail yang memperpanjang cerita.

Film menghapus itu semua. Fokusnya satu: rasa takut.

Dan ternyata itu keputusan yang tepat, lho.

Ketegangan di film terasa lebih nyata. Penonton tidak terganggu oleh subplot yang melenceng. Bahkan penulis novelnya sendiri mengakui bahwa versi filmnya bekerja lebih baik.

Jadi, Kenapa Film Bisa Menang?

Bukan karena novelnya gagal. Ini tidak lepas dari karakter film itu sendiri, yakni durasi yang terbatas.

Akibatnya, jalan cerita wajib dipaksa fokus. Jangan bertele-tele, apalagi melebar ke mana-mana.

Dengan begitu, produser pun seolah terpaksa harus memilih mana yang penting dan tidak. Bahkan setiap ucapan atau tindakan aktor mesti punya landasan yang kuat. Keren, ya?!

Ketika adaptasi dilakukan dengan pemahaman, bukan sekadar menyalin cerita, film pun bisa berdiri sebagai karya yang lebih solid.

Bagaimanapun, buku dan film itu memang medium berbeda.

Yang satu mengajak membayangkan, yang lain menunjukkan secara langsung. Kadang, cerita tertentu memang lebih cocok diceritakan lewat layar.

Kalau suka bahasan film yang nggak sok akademis tapi tetap mikir, kamu bisa menemukan artikel sejenis di citylaxthemovie.com.

Karena di dunia hiburan, yang menarik itu bukan cuma soal mana yang “lebih bagus”, tapi kenapa bisa terasa begitu. Percaya, deh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post